Rabu, 10 Januari 2024

Tentang Copras Capres 2024 dan Polarisme di 2019 ?

Tanpa terasa saat ini sudah di tahun 2024, tahun politik katanya, tahun di mana Republik ini akan segera menentukan, siapa orang yang akan mengisi tahta tertinggi kekuasaan selanjutnya, setelah Joko Widodo, presiden RI ke 7 akan turun tahta tahun ini setelah 2 periode berkuasa dan mengendalikan negeri ini.

Sampai blog ini saya tulis dan rilis, saya sendiri belum memiliki preferensi mana yang akan dipilih, ibarat tebak menebak pun, saya juga kesulitan, mana kira-kira yang bisa ditebak akan menang, tetapi kalau kita bicara mitos yang acapkali terdengar jika mengkait-kaitkan legenda pemimpin nusantara adalah "Orang Jawa", maka tidak salah kalau arahnya menuju ke sosok Mantan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

Itu klo hubungan dengan mitos soal kesukuan pemimpin nusantara yang selalu berulang dibahas jelang musim copras capres seperti sekarang ini, maklum negeri ini sangat dekat sekali dengan cerita cerita seperti ini, tapi klo di inget-inget sih, terkecuali bapak BJ Habibie, presiden-presiden RI selama ini memang orang jawa, misalnya nih

  1. Soekarno, kelahiran Surabaya, Jawa Timur
  2. Soeharto, kelahiran Bantul, Yogyakarta
  3. BJ Habibie, kelahiran Sulawesi Selatan
  4. KH Abdurrahman Wahid, kelahiran Jombang, Jawa Timur
  5. Megawati Soekarno putri, kelahiran Yogyakarta
  6. Susilo Bambang Yudhoyono, kelahiran Pacitan, Jawa Timur
  7. Joko Widodo, kelahiran Surakarta, Jawa Tengah

Bener kan, kalau mengacu ke atas dasar kesukuan dan bukan bermaksud rasis,tapi nyatanya deretan nama-nama diatas, orang jawa semua gaes

Tapi, di kontestasi Pilpres tahun ini, ada dua kandidat capres yang sama-sama bukan punya latar belakang suku jawa, yaitu Anies Baswedan yang memiliki asal kelahiran Kuningan, Cirebon Jawa Barat, sedangkan Prabowo Subianto adalah kelahiran Kota Jakarta, lantas apakah kedua lawan Ganjar Pranowo ini tidak memiliki potensi untuk menang ??

Tulisan saya ini tidak akan pakai sentuhan analisis politik, atau cuplikan hasil survei beberapa lembaga survei, tapi saya ingin menyampaikan beberapa keresahan saya di pilpres kali ini.

Bahwa, memang sampai saya menulis ini dari sebuah Cafe di samping Kampus UNS Surakarta, saya sama sekali belum menentukan pilihan bakal mendukung siapa, saya merasa bahwa tahun politik kali ini, saya memilih untuk tidak ikut dalam euforia riuh rendah dukung ini dukung itu, kejadian di 2019 adalah sudah cukup jadi pelajaran, betapa polarisasi sosial itu nyata dan benar adanya, di tahun ini seakan-akan memang situasinya seperti terbelah, bahkan hingga di kampung-kampung, hingga di hubungan antar anggota keluarga.

Belum lama saya berdiskusi panjang lebar dengan salah satu dosen pengajar di salah satu Universitas asal Banyuwangi, yaa terhitung masih teman lama saya, beliau kurang lebih memiliki sedikit rasa trauma yang sama, betapa ekstremnya tensi 2019 saat kami dihadapkan dengan dua pilihan saja dan kami memiliki referensi pilihan yang berbeda, bukan membicarakan bagaimana hubungan kami saat itu, akan tetapi kami lebih melihat kondisi sosial lingkungan sekitar kami yang dirasa tidaklah sepadan jika diukur hanya karena soalan siapa presiden yang akan dipilih di 2019, kala itu.

Setiap dari insan manusia di 2019, seperti sedang di kerubungi oleh eksposur fanatisme terhadap pilihan politik satu sama lain, ada yang saling sindir, saling adu sarkasme seperti penggunaan diksi cebong kampret, diksi cebong kadrun, saling klaim atas diri sendiri yang paling benar dan yang lain dianggap keliru atau salah, polarisasi situasi ini terjadi hingga level paling intim pada sebuah hubungan antar manusia.

Maka jika di pilpres tahun ini terdapat tiga calon kandidat, yaa saya kira lumayan cukup membantu mencegah polarisasi jilid dua, agak lumayan membantu memecah arus suara publik, utamanya di sosial media dll, karena publik tidak dihadapkan pada pilihan yang amat terbatas, tentu situasi ini buat saya pribadi juga melegakan.

Tips Atasi Kebingungan Menentukan Pilihan

- Niatkan, bukan mencari yang terbaik, tapi cegah yang "Menurut" lo buruk untuk bisa terpilih
- Karena tidak ada manusia terbaik selain Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, dan ini keyakinan yang tidak bisa didebat
- Perbanyak referensi positif dan netral dan tidak bersumber pada lokasi referensi yang afiliated dengan buzzer, provokator, akun-akun anonim atau fake account yang tidak dapat dipertanggung jawabkan validasi informasinya
- Ada satu website yang menurut penulis relatif oke dijadikan rujukan, misalnya situs Profil Kandidat (bijakmemilih.id)
- Kalau mau gali informasi dari circle tim sukses paslon, maka gali lah informasi secara obyektif dari ketiga circle timses agar kalian terbiasa fair dari dalam diri sendiri, namun hal ini menjadi tidak berlaku ketika kalian telah memantabkan pilihan pada paslon tertentu.
- Hindari judgement, labeling, dugaan atau tuduhan-tuduhan yang berasal dari triger opini yang bermunculan tanpa kalian punya kapasitas untuk memvalidasi, misalnya menuding paslon pelanggar ham, menuding paslon adalah ekstrimis radikal radikul anti pancasila, menuding paslon adalah komunis pki dll
- Yakini bahwa, sekali lagi, tidak ada manusia sempurna, sadari betul-betul sejak awal, bahwa masing-masing paslon punya sisi kekurangan.

Lantas, siapa yang mau penulis pilih di 2024 ? menarik untuk saya akan ulas pada produk tulisan saya di edisi selanjutnya, hehehe, stay tune yaaaa di blog ini. okkiardianto(dot)com


Terima Kasih

Saya profesional di Bidang Service, aktif satu tahun terakhir pada salah satu Perusahaan Transportasi Darat milik perseorangan, selain di website ini, tulisan saya dapat di akses di wordpress saya pada halaman www.okiardianto.wordpress.com , hubungi saya di okki.mardianto@outlook.com atau cek profil linkedIn saya.

0 komentar:

Posting Komentar

Contact Me

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Address/Street

Trenggalek, Jawa Timur - Indonesia

Phone number

+(62) 8180 701x xxx

Email

okki.mardianto@outlook.com